Mukisi.com-Sebagai bentuk aktualisasi ketaatan pada kaidah Islam, Rumah Sakit (RS) Syariah berupaya menghindari penggunaan obat haram. Pun jika darurat, RS Syariah akan memberi edukasi kepada pasien dan keluarga pasien terlebih dahulu.

Dikatakan oleh dr. Siti Aisyah Ismail, MARS, anggota divisi kerjasama internasional Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi), bahwa menggunakan benda najis sebagai pengobatan sebenarnya dilarang dalam Islam.

Ia kemudian menukil hadits riwayat Abu Dawud, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874)

Namun hukum Islam mempertimbangkan beberapa situasi dan kondisi yang dapat diberi kelonggaran sebagai rukhsah atau darurah. Karena sejatinya, dalam Islam, syariah diturunkan untuk memperoleh maslahah (kebaikan dan manfaat) dan menolak mafsadah (keburukan).

“Maslahah dalam Islam dikategorikan kepada tiga hal, yaitu adh-dharurah (kebutuhan primer), al-hajah (kebutuhan sekunder) dan at-tahsiniyah (kebutuhan tersier),” paparnya.

Adh-Dharurah kemudian dibagikan kepada lima Maqashid Asy-Syari’ah. Maqashid Syariah kemudian dipandu oleh lima Qawa’id Fiqhiyyah yang utama, salah satunya prinsip Al-Masyaqqah (kesulitan), antara lain: kesulitan membawa kemudahan, dan kebutuhan menghilangkan larangan.

Oleh karena itu dalam penggunaan obat, RS Syariah selalu mempertanyakan obat terkait ditujukan untuk memenuhi kebutuhan jenis mana. “Semua sudah diatur dalam maqasid syariah dan qawaid fiqhiyah,” imbuhnya.

Perkara Obat, Perkara Rigid

Islam mengenal empat mazhab fiqh yang dianggap utama. Masing-masing mazhab memiliki dalil atau hujjah masing-masing dalam menetapkan suatu hukum. Umat Islam di Indonesia menganut mazhab Syafii yang rigid, yang di dalamnya terdapat beberapa kaidah fiqh yang tidak diterima.

“Kaidah yang tidak diterima contohnya ‘istihalah’ (bio-transformation) dan ‘istihlak’ (extreme dilution). Memanfaatkan bahan haram tidak diterima dalam mazhab Syafii. Bahan yang asalnya haram, maka hukumnya akan kekal haram, meskipun sudah mengalami perubahan zat seperti proses istihalah dan istihlak,” terang wanita yang akrab disapa Dokter Aisyah ini.

Obat yang memanfaatkan zat haram, contohnya ialah LMWH (low molecular weight heparin) yang memanfaatkan zat dari sumber porcine (babi), yang bermanfaat untuk mencegah pembekuan darah. “LMWH ini banyak dipakai untuk penyakit jantung dan pembuluh darah, serta dalam bidang kebidanan,” paparnya.

Untuk pembuatan LMWH pun prosesnya sangat rumit. Sehingga secara molekuler, zat tersebut sudah mengalami biotransformasi dan tidak lagi memiliki ciri-ciri sebagaimana zat asalnya. Secara ilmiah memang bermanfaat secara signifikan untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. “Ikhwal kandungan haramnya, karena sudah mengalami bio-transformasi, maka dalam produk akhir tidak lagi terdeteksi adanya DNA babi,” imbuhnya.

Di sini para ulama kontemporer memberikan keluasan dan fleksibiltas. Hal ini sesuai dengan prinsip dari Qawaid Fiqhiyyah dan memenuhi kebutuhan sesuai Maqashid Syari’ah.

Informed Consent Adalah Hak Pasien

Dokter Aisyah menjelaskan, dalam memberikan pengobatan untuk pasien, RS Syariah berpegang kepada prinsip transparansi. Artinya, semua yang diberikan RS Syariah kepada pasien harus diketahui oleh pasien dan keluarga pasien.

“Termasuk fakta bahwa zat haram tersebut sudah mengalami biotransformasi sehingga tidak lagi memiliki ciri-ciri zat asalnya. Secara ilmiah pun sudah dibuktikan bahwa obat tersebut termasuk drug of choice yang tidak memiliki alternatif lain,” paparnya.

Hal inilah yang kemudian disebut sebagai informed consent (persetujuan pengobatan atau tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut). Bagi RS Syariah, penggunaan obat yang mengandung unsur yang haram wajib melakukan prosedur informed consent, sama halnya dengan semua pengobatan dan tindakan kedokteran lain.

Meskipun begitu, tidak ada bahaya yang ditimbulkan karena kandungan zat haram dari obat tersebut. “Dampak yang ada hanyalah efek samping, interaksi obat, dan dosis obat yang posisinya sama dengan jenis obat lainnya,” tutup Dokter Aisyah. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here