Mukisi.com-Selama ini, masyarakat umum mengenal wakaf sangat sempit. Memberikan tanah untuk dibangunkan masjid atau sekolah. Padahal, wakaf juga sangat bisa untuk diperuntukkan untuk pembangunan insfrastruktur rumah sakit (RS) atau pengadaan alat kesehatan (alkes).

Hal itu dikatakan oleh Dr. Imam Teguh Saptono, Direktur Global Wakaf Corporation, saat mukisi.com melakukan wawancara dengannya. Umumnya wakaf yang dimaksud dapat berbentuk wakaf tanah, wakaf alat-alat kesehatan dan wakaf uang sebagai modal. Wakaf dalam bentuk uang, ia melanjutkan, bisa dilakukan asalkan RS yang bersangkutan memiliki alternatif investasi yang dapat memastikan nilai tunai dari wakaf uang terjaga dengan baik.

“Misal digunakan untuk membeli alat MRI (Magnetic Resonance Imaging) yang bisa diprediksi besarnya cashflow dari alat tersebut,” paparnya.

Nantinya uang penerimaan hasil operasional alkes tersebut setelah dikurangi seluruh beban biaya, termasuk biaya amortisasi, dengan asumsi akhir masa operasi sudah terbeli lagi alat yang baru, maka keuntungannya dapat diberikan kepada mauquf ‘alaih (penerima manfaat dari pengelolaan suatu aset wakaf).

Rumah sakit, ia menambahkan, dapat menjadi mauquf ‘alaih atau penerima manfaat dari pengelolaan suatu aset wakaf. Rumah sakit dapat membentuk atau memiliki badan wakaf (nazhir) yang berperan sebagai pengelola aset wakaf, bukan pemilik.

Nazhir yang berbadan hukum dan sudah terdaftar di BWI (Badan Wakaf Indonesia) boleh menerima aset wakaf dalam bentuk apapun, baik wakaf bergerak, maupun wakaf tidak bergerak atau uang,” paparnya.

Namun nazhir harus memiliki kompetensi pengelolaan aset wakaf yang amanah dan bertanggungjawab. Pihak rumah sakit memiliki dua pilihan terkait hal itu, yaitu bertindak sebagai nazhir atau sebagai mitra nazhir.

Beberapa RS yang sudah menjalankan pola wakaf dalam pengelolaan keuangan antara lain RSI Sultan Agung Semarang dan jaringan RS Dompet Dhuafa.

“Untuk Dompet Dhuafa sudah mengkombinasikan antara zakat dan infaq sebagai sumber pendanaan fast moving RS, sementara pengembangan infrastruktur RS dan Alkes dikelola dari aset wakaf,” ungkapnya.

Kemunculan Initial Wakaf Offering (IWO)

Initial wakaf offering adalah penawaran saham sebuah RS yang telah beroperasi dan menguntungkan, guna menambah modal untuk ekspansi usaha. Hal ini berbeda dengan public offering. Meski sama-sama dibeli oleh publik (wakif), namun untuk IWO, saham akan diserahkan kepada nazhir untuk dikelola dan dijaga kelestariannya.

“Seluruh manfaat dari saham tersebut (IWO), baik dividen maupun capital gain menjadi hak mauquf ‘alaih. Sedangkan  Initial Public Offering (IPO), saham akan menjadi hak pemegang saham yang bersangkutan,” jelasnya.

Kelebihan IWO, kata dia, semakin untung perusahaan maka semakin besar manfaat yang diterima oleh ummat (mauquf ‘alaih). Selama perusahaan itu berdiri, selama itu pula ummat memiliki saham tersebut karena tidak bisa dijual atau diwariskan.

Edukasi Wakaf untuk Optimalkan Peran Wakaf

Wakaf sebagai solusi permasalahan keuangan harus dimasyarakatkan. Salah satunya dapat dilakukan melalui upaya meningkatkan literasi wakaf yang dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah sejak dini.

Kemudian, memberikan kemudahan akses wakif untuk berwakaf di setiap transaksi, e-wakaf contohnya. Hal yang tak kalah penting adalah pembinaan nazhir agar selalu bekerja secara profesional dan transparan, serta penerapan Good Corporate Governance (GCG) yang baik.

“Berikutnya, insyaa Allah program-program kepada mauquf ‘alaih akan berdampak signifikan,” katanya mengakhiri. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here