Mukisi.com-Nilai tukar rupiah yang semakin melemah, daya beli masyarakat yang kian menurun, dan berbagai permasalahan lainnya membuat rumah sakit semakin terjepit dan makin sulit berkembang. Namun kini ada solusi lain dari permasalahan ini, yaitu wakaf.

Hal inilah yang akan dibahas dalam seminar nasional berjudul ‘Optimalisasi Wakaf untuk Pengembangan Bisnis Rumah Sakit’ untuk berbagi pengalamannya tentang wakaf di lingkungan rumah sakit syariah, Selasa, (27/10) di Hotel Papyrus Tropical Bogor.

Menurut keterangan dari salah satu panitia, karena ada pertimbangan teksnis, kegiatan ini mengalami pergeseran waktu, yang awalnya dijadwalkan pada Rabu (26/9) bergeser ke  Selasa, (27/10).

Kegiatan yang diharapkan menjadi solusi atas berbagai permasalahan keuangan rumah sakit itu digelar oleh Pusat Studi Wakaf Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Dalam kegiatan itu, yang akan menjadi pembicara yaitu, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, M.Si, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, H. Henri Tanjung, Phd, Anggota Badan Wakaf Indonesia, Prof Dr dr Rifki Muslim, Direktur Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang, dan Abdullah Firman Wibowo, Direktur Utama BNI Syariah. Selain itu, seminar ini juga akan mengundang Ismail Agus Said, Ketua Yayasan Dompet Dhufa Republika, dan  dr Burhanuddin Hamid, Sekretaris Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI).

Kolaborasi Lembaga Wakaf dan RS Syariah

Kemudian dalam acara yang berlangsung besok, Dokter Burhan akan membawakan materi sekaligus memberi gambaran khusus terkait peran wakaf dalam rumah sakit syariah.

“Saya akan memberikan gambaran tentang sertifikasi rumah sakit syariah dan bagaimana konsep kolaborasi dalam platform wakaf,” ujar Burhan.

Sebagian besar RS Syariah, ia melanjutkan, sebenarnya memang berbasis wakaf hanya saja skemanya belum ditata dan belum ada acuan khusus untuk hal ini. Oleh sebab itu, ia merasa bahwa wakaf perlu menjadi perhatian khusus bagi semua kalangan terutama yang tertarik soal rumah sakit syariah ini.

Gambaran tentang wakaf dalam rumah sakit syariah ini juga sudah menjadi outcome dalam acara 1st International Islamic Healthcare Conference and Expo yang sudah digelar MUKISI April lalu.

“MUKISI sudah menyusun konsep tentang kolaborasi dengan lembaga wakaf, perbankan syariah, asuransi syariah, lembaga ZIS, fintech syariah dalam mendirikan atau mengembangkan rumah sakit syariah,” terangnya.

Meski demikian sudah menjadi outcome tapi lembaga wakaf belum memprioritaskan untuk pendirian maupun perkembangan rumah sakit syariah di Indonesia.

“Oleh karena itulah, MUKISI mendukung acara ini dan mengharapkan khalayak perumah sakitan di Indonesia, yang peduli terhadap soal rumah sakit syariah bisa meramaikannya,” imbuh Sekertaris MUKISI tersebut.

Kemudian, harapan MUKISI dalam seminar tersebut adalah terbentuknya kolaborasi yang luas demi potensi ummat. “Kami harapkan bisa terjadi kolaborasi antara lembaga-lembaga wakaf (nadzir) dengan MUKISI, sehingga rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah mendapat bantuan sekaligus menjadi prioritas dalam pendanaan wakaf,” tutup Burhan. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here