Mukisi.com-Perjuangan Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) untuk membangkitkan rumah sakit syariah di Nusantara kini semakin menujukkan hasil. Tahun 2020 Mukisi NTB menargetkan sedikitnya ada 3 rumah sakit yang tersertifikasi syariah.

Hal ini merupakan upaya Mukisi  yang terus bersinergi mewujudkan Grand Issue #2018ada50RSSyariah. Sebagai Provinsi dengan mayoritas penduduk muslim, animo Rumah Sakit (RS) yang ada di NTB untuk menjadi RS Syariah dapat dikatakan cukup tinggi.

Hal ini dikatakan oleh dr. Utun Supria, M.Kes, Ketua Mukisi NTB. Menurut pemaparannya, kini muncul beberapa rumah sakit di NTB yang mengutarakan keinginan untuk mendapat sertifikat syariah. Beberapa rumah sakit tersebut antara lain RSI Namira dan RS Yatofa di Lombok, serta RSI Siti Hajar di Mataram.

“Selain RSI Namira yang akan muncul sebagai pelopor RS Syariah di NTB, adalah RSI Siti Hajar dan RS Yatofa yang juga menyatakan antusiasmenya untuk menjadi RS Syariah,” paparnya.

Jumlah RS itu, lanjutnya, kemungkinan akan terus bertambah seiring dengan tersertifikasinya tiga rumah sakit tersebut  sebagai RS Syariah. Mukisi NTB memang menargetkan minimal ada satu RS Syariah di tahun 2019. Dengan itu, Dokter Utun berharap akan lebih mudah RS lain yang berminat menjadi RS Syariah untuk belajar dari RSI Namira.

RSI Namira Lombok Timur memang baru terakreditasi perdana oleh KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit) pada 2016. Namun Dokter Utun berharap RSI Namira akan dengan mudah untuk mendapat akreditasi paripurna KARS dan sertifikasi syariah DSN-MUI di 2019.

“Kami berharap predikat RSI Namira sebagai RS tersertifikasi syariah dapat diraih tahun 2019, agar target pencapaian minimal 3 RS Syariah di tahun 2020 di NTB bisa terwujud,” paparnya.

Kesiapan RSI Siti Hajar dan RS Yatofa untuk mendaftar pendampingan dan mengurus sertifikasi syariah pun sangat serius. Bahkan, kedua rumah sakit tersebut ingin bergabung dengan pendampingan sertifikasi syariah RSI Namira pada akhir Oktober esok.

“Mereka ingin belajar dari pendampingan sertifikasi RSI Namira esok. Mohon sekalian saran dari Mukisi Pusat,” paparnya.

Tantangan Tak Surutkan Semangat

Kedua RS tersebut, RSI Siti Hajar dan RS Yatofa, baru terakreditasi perdana oleh KARS. Sedangkan untuk mendapatkan sertifikat syariah, RS terkait harus lebih dulu terakreditasi paripurna oleh KARS.

Kemudian, ketersediaan SDM (Sumber Daya Manusia) yang memahami prinsip pelayanan kesehatan secara syar’i juga diakui Dokter Utun belum memadai. “Sehingga mereka perlu mendapat bimbingan tentang kapabilitas memahami standar syar’i dalam pelayanan rumah sakit,” ungkapnya.

Namun beberapa tantangan tersebut tak menyurutkan semangat kedua RS tersebut untuk mewujudkan sertifikasi syariah. Alih-alih berdiam diri, mereka justru antusias belajar dari RS yang telah atau sedang menjalani sertifikasi syariah.

Lagipula, lanjutnya, kedua rumah sakit tersebut merupakan RS Swasta yang penentu kebijakan cukup dipegang oleh owner dan yayasan. Sehingga, tak perlu prosedur rumit dalam menentukan kebijakan RS  tersebut untuk menjadi RS Syariah. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here