Mukisi.com– 2014 lalu, Rumah Sakit Islam Sultan Agung (RSISA) Semarang ditetapkan sebagai RS yang tersertifikasi syariah pertama di Indonesia bahkan di dunia. Meski tak mudah bagi RSISA mengubah dirinya menjadi RS Syariah, kini RSISA menjadi tonggak berdirinya RS Syariah lainnya di Indonesia.

Dalam bertransformasi menjadi RS Syariah, ada beberapa hal yang menjadi fokus RSISA. Pertama dan utama adalah adalah RS harus mendapatkan sertifikat jaminan halal gizi.

“Setelah jaminan halal gizi didapat, kami menyusun pedoman, kebijakan, panduan sesuai buku standarisasi termasuk memberi pelatihan kepada semua pegawai agar comply dengan standar syariah,” jelas dr. H. Masyhudi AM, M.Kes, Direktur Utama RSISA.

Langkah selanjutnya adalah mengatur sarana prasarana dan mendidik pengunjung serta pasien tentang adab-adab yang boleh dilakukan di rumah sakit. “Kami juga menambahkan sign arah kiblat dan sign lain yang berkaitan serta mengedukasi pengunjung tentang adab menunggu dan adab-adab lain yang boleh dilakukan di rumah sakit,” ujarnya.

Dokter Masyhudi menyebutkan bahwa setelah tersertifikasi syariah, RSISA juga tak lepas dari tantangan-tantangan yang menunggu. Salah satunya adalah memperbaharui akad di semua transaksi.

“Ini menjadi tantangan tersendiri karena juga merupakan hal baru, dimana antar RS dan pegawai ada akadnya, antar RS dan vendor, serta antar RS dan pasien,” aku Direktur Utama RSISA itu.

Sejak RSISA memegang sertifikasi syariah dan menjadi rumah sakit syariah, sektor bangunan rumah sakit harus juga dibenahi demi mengupayakan layanan syar’i di dalamnya.

“Misalnya, toilet. Dulu, toilet untuk laki-laki kami pasang urinoir. Lalu, kita ubah karena tidak sesuai dengan adab-adab syar’i,” jelasnya kembali.

Adapun selain toilet, juga melakukan penambahan tempat wudhu bahkan tempat laundry juga mengalami renovasi. Ini dimaksudkan agar area suci dan tidak tercampur.

Kemudian, ada beberapa hal yang membedakan RSISA sebelum memegang sertifikasi dan sesudah sertifikasi. Di antaranya yaitu, pihak RS menjamin bahwa setiap pasien yang meninggal dunia di dalam RS pasti akan di-talqin. “Dulu kita tidak concern terhadap talqin ini,” akunya menambahkan.

Selanjutnya, fokus rumah sakit tak hanya untuk kesehatan pasien. Pihak RS bertanggung jawab terhadap beberapa hal-hal khusus. “Kami ada tanggung jawab aqidah, menyelamatkan aqidah,” ungkap kembali Ketua MUKISI tersebut. Lalu, juga perubahan yang terjadi yaitu mengingatkan waktu shalat bagi pasien.

Dahulunya RSISA hanya mengandalkan adzan, urusan shalah dikembalikan pada pasien dan pengunjung. Namun setelah sertifikasi, semua pegawai di RSISA bertanggung jawab atas mengingatkan kewajiban shalat bagi pasien muslim maupun muslimah.

“Jika pasien membutuhkan tayammum, kami bantu, dan berbagai bantuan untuk menunjang ibadah pasien,” terangnya.

Kemudian, sudah menjadi tanggung jawab semua pihak dalam rumah sakit untuk mengenalkan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang rumah sakit syariah.

Munculnya Ide RS Syariah

Munculnya ide membuat RS Syariah berangkat dari keinginan Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) membuat standarisasi khusus untuk rumah sakit dengan menanamkan nilai-nilai syariah Islam di dalamnya.

Keinginan ini diungkapkan dalam salah satu Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Kota Batu, Malang. “Pasca mendapat akreditasi paripurna pada tahun 2014, Rumah Sakit Sultan Agung Semarang diminta membantu menyiapkan standar sertifikasi rumah sakit syariah,” papar pria yang juga diamanahi sebagai  Ketua Umum MUKISI itu.

Setelah standard sudah siap, uji coba dilakukan sebelum sertifikasi ini ditetapkan dan diresmikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Dewan Syariah Nasional (DSN). “Kami yang diminta menjadi rumah sakit uji coba atau rumah sakit pilot project,” akunya.

Owner dan jajaran direksi RSISA memiliki komitmen yang sama untuk sertifikasi ini, apalagi pas sekali dengan visi misi rumah sakit yang salah satunya membangun peradaban Islam dalam hal rumah sakit,” tambah Masyhudi.

Kini sudah muncul 10 rumah sakit yang ter sertifikasi syariah  dan 26 lagi yang akan mengajukan proses  sertifikasi syariah. “Target kami ada 50 rumah sakit yang tersertifikasi syariah di tahun 2018. Jika melihat respon dari berbagai rumah sakit dan publik, insyaAllah tercapai,” ujarnya. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here