Mukisi.com– Bagi seorang muslim, sholat adalah ibadah yang tidak bisa  ditawar lagi, apapun kondisinya. Meskipun sedang tergolek lemah di rumah sakit sekalipun. Karenanya, RS yang tersertifikasi syariah memastikan semua perawatnya selalu mengawal  sholat untuk pasien yang sudah baligh.

Miftachul Izah, SE, M.Kes, Wakil Sekretaris Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) pernah mengatakan bahwa RS yang sudah mendapatkan sertifikasi syariah harus punya perhatian khusus terhadap ibadah pasiennya, terutama sholat.

Menurut Mifta, sejak awal pasien masuk rumah sakit, petugas harus sudah membedakan mana pasien pria dan wanita. Mana yang baligh dan yang belum. “Ini menjadi dasar bagaimana petugas rumah sakit melayani mereka, terutama membantu kelancaran sholat pasien,” ujarnya.

Pasien wanita, ia melanjutkan, tentu saja berbeda penanganannya dengan pria. Jika wanita, petugas harus menanyakan apakah sudah punya mukenah apa belum, apa sudah tahu arah kiblat, hingga sampai memastikan apakah pasien bisa wudhu dengan sempurna apa tidak. “Dari situ, perawat akan tahu, pasien butuh disupport apa setiap kali akan sholat, Petugas harus memastikan pasien bisa melakukan sholat dengan nyaman,” tandasnya.

Sementara itu Andi Pasya, divisi hubungan masyarakat dari Rumah Sakit Islam Yogyakarta Persaudaraan Djema’ah Haji Indonesia (RSIY-PDHI), menambahkan bahwa di RS Syariah, semua petugas berkewajiban mengingatkan pasien  untuk shalat jika waktunya telah tiba. “Kami punya check list khusus untuk ini, yang membuat kami tahu, siapa yang sudah diingatkan dan siapa yang belum,” jelasnya.

Menumbuhkan Kesadaran Spiritual Pasien

Pentingnya  mengingatkan shalat untuk pasien, dikatakan oleh Samsudin Salim S.Ag, M.Ag, Manajer dalam Bidang Pelayanan Islam, Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual di saat dalam kondisi sakit, dengan cara setiap pasien yang dirawat di RS Syariah selalu diingatkan waktu shalat oleh perawat yang bertugas.

“Hal ini dimaksudkan agar dalam kondisi sakit sekalipun, pasien tetap mengingat Allah, dan memberi kesembuhan padanya melalui pelaksanaan shalat,” jelasnya.

Di sisi lain ia menambahkan, jika dalam beberapa kondisi, seorang pasien tidak dapat melakukan shalat secara normal, maka petugas rumah sakit akan memberikan bimbingan fiqh shalat bagi pasien. Seperti, bagaimana shalat dalam kondisi duduk ataupun dengan berbaring.

“Meskipun ini tugas institusional pegawai rumah sakit, yang ditujukan untuk memenuhi mutu wajib syariahnya suatu rumah sakit, pegawai juga harus memahami bahwa hal tersebut adalah panggilan dakwah,” tegas Samsudin.

Sementara itu, ada kondisi khusus seperti yang dikatakan Samsudin dimana rumah sakit syariah tidak mengingatkan waktu shalat kepada pasien. Kondisi khusus tersebut yaitu ketika pasien sedang dalam kondisi nifas pasca persalinan.

“Petugas rumah sakit tak kenal lelah untuk berdakwah,” tambah Samsudin yang juga merupakan anggota divisi sertifikasi Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI).

Maka dari itu, petugas-petugas di rumah sakit syariah memiliki kewajiban untuk berdakwah kepada pasien dengan sesuai prosedur. Jika, ditemui pasien yang menolak untuk shalat meski sudah diingatkan ataupun mengulur-ulur waktu, rumah sakit syariah memandang hal tersebut adalah hak pribadi pasien. “Tugas kita hanyalah mengajak, bukan memaksa,” tutupnya.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here