Mukisi.com-Bagi rumah sakit yang sudah menyandang sertifikasi “syariah”, memilih alat kesehatan adalah hal yang penting. Sisi syariah harus menjadi pertimbangan utama.

Banyak aspek yang diperhatikan oleh RS Syariah yang mungkin dianggap sepele oleh RS konvensional. Salah satunya tentang alat kesehatan di rumah sakit. Baik dari pengadaan hingga penggunaan menjadi penilaian syariahnya rumah sakit tersebut.

Diakui atau tidak, alat kesehatan tak dapat lepas dari inventaris rumah sakit. . Namun ada beberapa prinsip syariah yang harus menjadi pertimbangan. Misalnya, dalam pengadaan alat kesehatan menggunakan sistem akad. Sistem akad ini yang menjamin syariahnya suatu rumah sakit dalam beberapa aspek.

“Landasan normatif akad syariah mengacu pada QS. Al Maidah ayat 1,” papar Samsudin Salim, S.Ag, M.Ag, divisi sertifikasi syariah Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI).

Surat Al Maidah ayat 1 dalam Al Qur’an itu berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”

Kemudian, untuk menerapkan akad syariah tersebut tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan serampangan karena harus mengacu dan mengikuti fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

“Semua akad syariah harus mengacu pada fatwa DSN MUI,” tambah Samsudin.
Maka dari itu, pengadaan alat kesehatan dengan cara yang baik dan sesuai syariat Islam menjadi suatu kewajiban bagi rumah sakit syariah. Apalagi di setiap transaksi yang dilakukan di dalam rumah sakit syariah harus menggunakan sistem akad tak terkecuali untuk pengadaan alat kesehatan.

“Prinsipnya setiap transaksi di RS syariah harus menggunakan akad syariah,” papar pria yang juga menjadi Manajer di Bidang Pelayanan Islam Rumah Sakit Sultan Agung Semarang.

Dengan demikian, akad dalam pengadaan alat kesehatan di rumah sakit syariah menjadi penting karena dengan begitu dapat memberi nuansa Islami yang kental dan terjaga.

Menyikapi Alkes yang Belum Halal
Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Produk Halal Kementerian Agama, Siti Aminah menjelaskan bahwa alat kesehatan termasuk barang yang digunakan, karena digunakan tersebut alat kesehatan haruslah halal.

“Alkes kenapa harus halal? Alkes itu masuk ke dalam barang gunaan. Alat kesehatan belum ada yang halal terutama ring. Belum ada yang halal,” terangnya pada diskusi halal yang digelar Indonesia Halal Watch beberapa waktu silam.

Kemudian, jika mengacu pada kaidah ushul fiqh yang menerangkan bahwa dalam suatu kondisi darurat suatu benda atau barang yang mulanya haram dapat menjadi halal.
“Tapi, kalau manusia membutuhkan sehingga kalau dia tidak pakai maka dia akan meninggal. Secara hukum Islam itu boleh, tapi ketika ada satu alat yang halal itu bisa jadi haram,” jelasnya melanjutkan.

Selama ini, alat kesehatan memang belum ada yang halal meski termasuk dalam kebutuhan primer. Namun bagi yang benar-benar membutuhkan alat kesehatan tersebut dan dalam situasi yang darurat alat tersebut menjadi halal hukumnya.

Tapi, ia menegaskan bahwa jika suatu hari ada alat kesehatan yang halal dan bersertifikasi maka alat kesehatan yang tadinya dipakai menjadi haram digunakan. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here