Mukisi.com-Mengurus sertifikasi “syariah” untuk rumah sakit ternyata tidak rumit. Langkah awal, hanya perlu mengajukan pendampingan sertifikasi syariah. Apalagi, kini pengajuan pendampingan sertifikasi syariah dapat dilakukan secara on line.

Kemudian, Miftachul Izah, SE., M.Kes, Wakil Sekretaris Mukisi menjelaskan bahwa mengajukan pendampingan RS Syariah tidak ada batasan waktu. Artinya, kapanpun rumah sakit dapat melakukan pengajuan pendampingan sertifikasi syariah.

Pengajuan pendampingan pun terbuka untuk rumah sakit manapun, baik rumah sakit Pemerintah (BUMN ataupun BUMD), rumah sakit milik yayasan, rumah sakit milik perorangan, swasta atau lainnya. Namun direktur rumah sakit yang mengajukan pendampingan sertifikasi syariah haruslah seorang muslim. “Karena untuk menegakkan prinsip syariah, sebagian besar kepemilikan rumah sakit harus milik muslim,” ungkap Mifta.

Rumah sakit yang ingin tersertifikasi syariah juga harus terakreditasi oleh KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit). Bukti akreditasi tersebut dilampirkan ketika mendaftarkan pengajuan pendampingan. Karena dalam kenyataannya, masih terdapat beberapa rumah sakit yang belum mendapat akreditasi dari KARS, meski telah mengantongi izin mendirikan rumah sakit.

“Rumah Sakit yang akan dilakukan pendampingan persiapan sertifikasi rumah sakit syariah adalah rumah sakit yang telah lulus akreditasi, bila rumah sakit belum lulus akreditasi maka akan dilakukan pendampingan persiapan akreditasi dan sertifikasi secara bersamaan,” ungkapnya.

Kemudian rumah sakit yang ingin tersertifikasi syariah dapat mengajukan pendampingan dengan mengirim surat pengajuan pendampingan yang ditujukan untuk Mukisi. Untuk mempermudah, rumah sakit yang ingin tersertifikasi syariah juga dapat mendaftarkan pengajuan pendampingan melalui website mukisi.com. Sementara itu, apabila ingin mengadakan tanya jawab terlebih dahulu, dapat menghubungi sekretariat Mukisi di nomor hotline 0813-8081-7939.

Rumah sakit yang ingin mengajukan pendampingan Sertifikasi RS Syariah juga dianjurkan mendaftar anggota Mukisi terlebih dahulu. Hal ini ditujukan agar rumah sakit tersebut dapat mengikuti perkembangan terbaru tentang standar rumah sakit syariah.

“Tidak ada konsekuensi pembiayaan apapun untuk menjadi anggota Mukisi, oleh sebab itu diharapkan rumah sakit yang mengajukan pendampingan sertifikasi syariah juga mendaftar sebagai anggota Mukisi, mereka akan lebih mudah mendapatkan informasi terbaru terkait standar-standar RS Syariah,” ungkapnya.

Tiga Tahapan Mudah

Terdapat tiga tahapan mudah untuk mendapatkan sertifikasi syariah, antara lain, tahapan pendampingan, tahapan pra-survey, dan tahapan survey.

“Untuk tahapan pendampingan dan pra-survey akan dilakukan oleh tim Mukisi. Sedangkan untuk tahapan survey akan dilakukan oleh tim Mukisi bersama DSN-MUI. Di tahapan terakhir inilah (survey), secara otomatis beralih menjadi ranah nya MUI, meskipun MUI datang dengan perwakilan Mukisi,” paparnya.

Tahapan pendampingan bertujuan untuk membantu dan memahamkan rumah sakit yang ingin tersertifikasi syariah agar mempersiapkan keperluan sertifikasi dengan mudah dan benar. Tahapan ini dilakukan dalam jangka waktu maksimal tiga bulan. Dalam tahapan ini, Mukisi hanya melakukan 1 kali tatap muka dengan cara mengunjungi rumah sakit yang ingin tersertifikasi syariah. Selanjutnya, dilakukan pendampingan via online (baik itu email, website, atau contact person secretariat).

Mukisi juga memfasilitasi bagi RS yang ingin tersertifikasi syariah untuk berkunjung ke rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah. “Mereka dapat belajar dari rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah, Mukisi akan dengan tangan terbuka membantunya, ini menjadi bukti keseriusan Mukisi untuk membangkitkan rumah sakit syariah di Nusantara,” paparnya

Ketika dokumen dan implementasi siap, maka Mukisi akan melakukan pra-survey. Dari hasil pra-survey inilah nantinya mukisi akan mengeluarkan surat rekomendasi yang akan dikirim ke MUI,  dengan syarat rumah sakit tersebut harus mendapatkan nilai minimal 80.

Waktu untuk Seluruh Proses Sertifikasi

Progresivitas tahapan pra-survey menuju tahapan survey sangat tergantung dari kesiapan masing-masing rumah sakit. “Ini variatif, tergantung dengan kesiapan dan kemampuan masing-masing rumah sakit untuk memenuhi dokumen dan implementasi di lapangan, apakah dengan cepat dapat dinyatakan layak dan recommended untuk disurvey DSN-MUI,” paparnya.

Perbedaan progress ini, lanjutnya, selama ini menunjukkan hasil yang berbeda-beda. “Ada rumah sakit yang memerlukan enam bulan hingga satu tahun untuk kemudian menuju tahapan survey, ada juga rumah sakit yang hanya memerlukan lima bulan untuk menuju tahapan survey DSN-MUI,” paparnya.

Berbagai Tantangan Harus Dihadapi

Intalasi gizi dan dapur diakui oleh Mifta sebagai hal yang kerap menjadi tantangan tersendiri bagi rumah sakit yang ingin tersertifikasi syariah. Karena makanan, obat, dan gizi di rumah sakit syariah harus tersertifikasi halal oleh LPPOM-MUI.

Kemudian RS yang ingin tersertifikasi syariah juga harus bekerjasama dengan lembaga keuangan syariah. “Proses persiapan keuangan syariah ini yang biasanya memerlukan waktu agak lama, karena rumah sakit harus mengubah seluruh kerjasamanya menjadi akad yang syariah, baik itu akad dengan pasien, dengan vendor, maupun dengan karyawan,” ungkapnya.

Implementasi dan penanaman nilai-nilai kepada seluruh sivitas rumah sakit juga menjadi hal yang cukup ‘memakan’ waktu. “Rumah sakit yang besar dengan jumlah karyawan yang banyak tentu membutuhkan waktu lebih lama untuk memberi pelatihan para karyawan tentang fiqh thoharoh  dan beberapa pelatihan lainnya, harusnya pelatihan semacam ini dilakukan sebelum pra-survey,” paparnya.

Namun secara umum tak ada kendala yang besar. Seluruhnya tergantung dari keseriusan masing-masing rumah sakit dalam menyiapkan terpenuhinya prinsip-prinsip syariah. Rumah sakit yang dengan sungguh dan sigap membenahi implementasi prinsip syariah, akan dengan mudah dan cepat untuk mendapatkan sertifikasi syariah. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here